Selasa, 09 Maret 2010

PADUNGKU (PESTA SYUKURAN) BUAH-BUAHAN



Padungku Buah-Buahan
Sarana Resolusi Konflik Bagi Warga

AMPANA- Ratusan warga dari berbagai penjuru baik dari kabupaten Tojo Una-Una maupun Kabupaten Poso, tumpah ruah di Desa Matako Kecamatan Tojo Barat Kabupaten Tojo Una-Una, Ahad (7/3) dalam pelaksanaan pesta syukuran (Padungku) buah-buahan di desa tersebut.
Sejak Ahad pagi suasana Desa Matako Kecamatan Tojo Barat, mulai ramai didatangi para tamu yang ingin menghadiri Padungku buah-buahan sebagai bukti syukur atas keberhasilan panen buah-buahan tahun ini. Para tamu /warga yang ingin merayakan pesta syukuran tersebut datang secara berkelompok dengan menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat.
Mereka mulai mendatangi rumah sanak saudara, kerabat dan teman di desa tersebut untuk mendapatkan sajian buah-buahan untuk dinikmati dan dibawa pulang sebagai buah tangan (oleh-oleh).
Tahun ini panen buah-buahan di Desa Matako didominasi buah durian. Selain itu ada buah langsat dan rambutan. Namun kebanyakan warga Desa Matako menyajikan buah-buahan tersebut secara bersamaan untuk dinikmati para tamu yang datang.
Papa Yuli, salah seorang warga Desa Matako mengaku, telah menyiapkan secara khusus hasil panen buah bagi tamunya yang datang saat padungku di gelar di desanya.
“Kami senang bisa menyediakan buah-buahan bagi tamu kami yang datang di acara padungku kali ini,” katanya.
Dia mengaku, pada padungku kali banyak sahabat lama yang datang setelah sekian lama tak bertemu karena konflik yang melanda Kabupaten Poso dan sekitarnya termasuk Tojo Una-Una yang dulu masih masuk dalam wilayah kabupaten Poso.
“Mudah-mudahan kegiatan seperti ini dapat merajut kembali silaturahim yang sempat terkoyak sekian lama,” harapnya.
Raden salah seorang tamu yang datang pada acara padungku tersebut, mengaku sangat senang bisa menikmati sepuasnya buah-buahan yang diberikan warga Desa Matako pada acara syukuran buah tahun ini. Bahkan bukan hanya itu dirinya bersama teman-teman lainnya bisa membawa pulang buah-buahan dalam jumlah yang cukup banyak.
“Pokoknya kami sangat senang bisa makan gratis buah durian dan membawanya pulang di acara padungku buah kali ini,” ujarnya.
Selain itu kata Raden, dirinya bisa bertemu dengan teman-teman lama yang ada di daerah ini, sehingga keakraban bisa terus terjalin.
Sementara itu, Yasser Fedayyen salah seorang anggota DPRD Kabupaten Tojo Una-Una, menilai, pelaksanaan padungku buah kali ini dapat dijadikan sebagai sarana resolusi konflik bagi warga baik muslim maupun non muslim, yang ada di dua daerah ini (Poso dan Tojo Una-Una) yang pernah merasakan konflik horizontal di daerah ini.
“Mudah-mudahan kegiatan ini semakin mempererat hubungan baik yang pernah ada, sebelum konfik melanda daerah ini,” kata Yasser yang berasal dari daerah pemilihan Tojo Barat - Tojo dan Ulubongka ini.
Dia mengharapkan, adat istiadat yang ada di masyarakat seperti padungku ini perlu dipertahankan dan dilestarikan sebagai budaya daerah yang sifatnya dapat merangkul semua kalangan dan golongan, etnis dan agama yang ada di daerah ini.
“Budaya padungku ini harus terus hidup ditengah masyarakat kita, sehingga keberagaman yang ada di masyarakat terus hidup dan lestari,” tandasnya. (RAHMAN)

NELAYAN TAK MAMPU


Kisah Nelayan Tak Mampu di Bahari
Nestapa Tak Bertepi..


Perjalanan ini...Terasa sangat menyedihkan
Sayang engkau tak duduk disampingku kawan...
Banyak cerita yang mestinya kau saksikan..
Di tanah kering bebatuan...

Sepenggal bait lagu Ebit G Ade di atas mengantar kita untuk melihat lebih dekat kehidupan nelayan tradisional yang kurang mampu di Desa Bahari Kecamatan Tojo Kabupaten Tojo Una-Una, yang menjalani aktivitas kesehariannya dengan mencari ikan dengan peralatan sederhana, guna mencukupi kebutuhan sehari-harinya.

LAPORAN : RAHMAN YUDHIANSYAH (Wartawan Media Alkhairaat Di Tojo Una-Una)

Rumah rumah yang berukuran kecil dengan satu ruangan sebagai tempat tidur sekaligus tempat memasak, letaknya tepat di tepi pantai Desa Bahari.
Asap tungku kayu yang mengepul di ruangan itu, menemani Lasahing (51}meninakbobokan anak terakhirnya menjelang malam. Lampu botol minyak tanah satu-satunya di rumah itu, menerangi ruangan dimana Lasahing bersama anak dan istrinya beristirahat. Aroma pantai yang khas menyenyakkan tidur sang anak dan istri Lasahing.
Cahaya lampu botol di rumah Lasahing, terlihat remang diantara dinding rumah yang menganga. Untuk menuju rumah Lasahing, harus melewati jembatan papan yang telah rapuk dimakan hujan dan panas. Untuk melintas jembatan papan itu, setiap orang harus hati-hati melangkah, jika tidak yang melewatinya bisa terjatuh, karena jembatan papan itu sudah bergoyang karena tidak bisa diperbaiki lagi.
Lasahing seorang nelayang tradisional di Desa Bahari tersebut telah menjalani kehidupannya di rumah yang tak layak dihuni itu kurang lebih 20 tahun.
Sebagai nelayan tradisional yang kurang mampu, berusaha mensyukuri apa yang ada dalam kehidupannya. Dengan empat orang anak, kehidupan Lasahing sebagai seorang nelayan tradisional berusaha menghidupi keluarganya dengan hasil tangkapannya yang tak menentu.
”Kalau saya turun melaut, kadang hasilnya hanya cukup dimakan,” ujarnya saat ditemui Media Alkhairaat belum lama ini.
Dia menututurkan keinginannya untuk memiliki rumah yang layak sebagai tempat berlindung keluarganya.Namun kemiskinan yang menjeratnya tak mampu memenuhi hasratnya itu.
”Bagaimana saya bisa punya rumah pak, kalau pendapatan dari melaut hanya cukup untuk dimakan,” tuturnya.
Keriput dahi Lasahing yang telah berusia 51 tahun, terlihat sangat jelas dikeremangan lampu minyak malam itu, sebagai asa nestapa yang selama ini dijalaninya bersama istrinya yang bernama Lumme (41). Sambil membentulkan sarungnya, Lasahing melanjutkan kisah hidupnya diatas rumah reot yang selama ini ditempatinya.
Suatun malam saat tertidur nyenyak, anak terakhirnya berusia 5 tahun terjatuh ke tanah . Hal itu terjadi karena ruangan tempat tidur mereka hanya yang berukuran 2x3 meter. Tangis anaknya membangunkan dirinya secara spontan dan langsung mencari anaknya ke bawah rumah yang tepat di tepi pantai. Saat itu air laut sedang pasang, tanpa basa-basi anak terakhirnya yang telah jatuh ke air itu diangkat ke atas rumah dan dibungkus dengan kain seadanya untuk menghilangkan rasa dingin yang menusuk.
”Kalau saya tidak dengar dia menangis, mungkin anak saya sudah tidak ada karena tidak tertolong,” kata lasahibg dengan mata berkaca-kaca.
Lasahingpun melanjutkan kisahnya, harapan untuk memiliki rumah layak selalu muncul dibenaknya karena peristiwa jatuhnya anaknya ke laut. Asa itu muncul ketika program pemerintah berupa pembangunan perumahan nelayan turun di desanya. Dia mengaku rumah reotnya pernah di foto oleh salah seorang petugas desa, yang katanya untuk Program pembangunan rumah nelayan tersebut.
Harapan Lasahing untuk memiliki rumah yang layak itu mungkin mewakili sejumlah harapan nelayan tradisional yang kurang mampu di desa itu.
Tahun pun berganti, program pembangunan perumahan nelayan telah dikerjakan dan telah selesai.Namun apa daya, karena ketidakmampuan dari segi keuangan Lasahing pun tak bisa memiliki rumah nelayan yang dibangun pemerintah tersebut. Pasalnya dia tidak bisa menebus lokasi yang diatasnya di bangun rumah nelayan tersebut.”Kita harus siapkan uang sampe dua juta, untuk menebus lokasi perumahan nelayan itu. Dari mana saya bisa dapatkan uang sebanyak itu, kalau untuk makan saja kadang tidak cukup,” ungkapnya.
Tak ayal, besarnya uang tebusan lahan itu membuat harapan di depan mata untuk memiliki rumah layak harus disingkirkan jauh-jauh. Karena bagi dia lebih baik tinggal di rumah reot dari pada harus berhutang banyak.
Lasahing pun mengaku tak pernah merasakan bantuan pemerintah, untuk meningkatkan taraf kehidupannya. Baik bantuan modal maupun bantuan peralatan tangkap untuk nelayan. Bahkan dalam turun melaut mencari hasil tangkapan kadang dalam sehari tidak memperoleh seekor pun ikan. Sehingga untuk makan saja kadang mereka tidak bisa meraskannya, karena tidak punya penghasilan untuk membeli beras.
Kehidupan Lasahing yang serba tak ada itu berbanding terbalik dengan harapan pemerintah daerah yang ingin mengentaskan kemiskinan bagi masyarakatnya melalui program kegiatan pemberdayaan perekonomian berbasis kerakyatan, yang dilakukan melalui pemberdayaan masyarakat berbasis sumberdaya lokal.
Tak ayal harapan pemerintah daerah itu tak berlaku bagi Lasahing, karena untuk mengentaskan kemiskinannya, Lasahing tak pernah mendapatkan bantuan pengembangan usaha perikanan dan kelautan skala kecil yang selama ini di dengung-dengungkan pemerintah daerah sejak kabupaten ini berdiri tahun 2003 lalu. (***)

RUMAH NELAYAN


Perumahan Nelayan di Bahari
Tak Semua Nelayan Bisa Dapat
AMPANA- Empat puluh unit perumahan nelayan yang berada di Desa Bahari Kecamatan Tojo Kabupaten Tojo Una-Una, , ternyata tidak bisa ditempati semua nelayan tradisional yang kurang mampu di desa tersebut.
Pembangunan perumahan nelayan yang merupakan proyek mitigasi bencana yang menggunakan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) tahun 2009, senilai Rp 1.575 miliar, yang baru saja diresmikan penggunaannya, juga tidak dilengkapi sejumlah fasilitas seperti listrik dan air bersih.
Hasil investigasi Media Alkhairaat di lokasi pembangunan perumahan nelayan tersebut, sejumlah warga nelayan tradisional yang kurang mampu mengaku, tidak dapat memiliki rumah nelayan tersebut karena untuk menempatinya warga nelayan harus membayar sebesar Rp 2 juta hingga Rp3 juta, guna menebus lokasi/ lahan pekarangan yang diatasnya dibangun rumah nelayan tersebut.
“Kita tidak bisa tempati rumah baru itu, karena saya tidak sanggup membayar pembebasan lahannya sebesar dua juta, kepada pemilik lahan,” ujar seorang nelayan tradisional yang namanya enggan dikorankan.
Nelayan yang telah berusia 51 tahun ini mengaku, sangat berkeinginan memiliki rumah nelayan yang dibangun pemerintah tersebut, karena rumah yang ditempati saat ini terbilang sudah tidak layak sebagai tempat tinggal. Namun karena adanya syarat untuk menebus lahan tersebut maka dengan sangat kecewa dirinya tak bisa memiliki rumah baru itu.
Hasil panelusuran media ini di lapangan, 40 unit perumahan nelayan tersebut telah ada pemiliknya dan saat ini sebanyak 29 Kepala Keluarga (KK) telah menempati perumahan tersebut. Dari 29 KK yang telah menempati perumahan tersebut, hanya sebanyak kurang lebih 10 KK merupakan nelayan tradisional di Desa Bahari. Bahkan di lokasi tersebut ada satu orang warga memiliki empat kapling tanah dengan satu bangunan rumah, sehingga lokasi tersebut terlihat bolong (kosong) di tengah. Empat kapling lahan tersebut menurut informasi yang berhasil dihimpun pemiliknya menebus lahan perumahan sebesar Rp 12 juta.
Salah seorang nelayan tradisional Desa Bahari yang telah menempati perumahan nelayan tersebut mengaku, untuk menempati rumah ini , dirinya harus membayar dua juta rupiah kepada yang emounya lahan, sehingga saat ini keluarganya bisa menempati perumahan nelayan yang dibangun pemerintah itu.
“Saya membayar sebesar dua juta rupiah untuk menebus lahannya. Uang yang saya pakai membayar itu saya harus pinjam dulu sama orang lain, kalau tidak mana bisa saya menempati rumah ini,” akunya sambil meminta namanya tidak dikorankan.
Salim Makaruru dari Lembaga Kemitraan Masyarakat (LKM) Tojo, menilai pembangunan perumahan nelayan di Desa Bahari tersebut tidak tepat sasaran.
Pasalnya menurut dia, banyak nelayan tradisional yang tidak mampu yang seharusnya mendapatkan perumahan tersebut ternyata tidak bisa mendapatkannya.
“Ini kan sangat ironis dengan keberadaan nelayan tradisional yang tidak mampu dan hanya tinggal di rumah yang sudah mau ta roboh, justru tidak bisa menempati perumahan tersebut,” sebutnya.
Dia meminta kepada dinas terkait untuk meninjau kembali peruntukan perumahan nelayan yang dibangun dengan dana miliaran rupiah itu.
Selain itu, DPRD Kabupaten Tojo Una-Una juga diminta peka terhadap permasalahan yang terjadi ditengah masyarakat seperti yang terjadi di Desa Bahari khususnya dengan keberadaan perumahan nelayan yang dinilai tidak tepat sasaran.
“DPRD harus bisa memanggil dinas terkait untuk meminta penjelasan kenapa hal itu bisa terjadi,” pintanya.
Sementara itu Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Tojo Una-Una, Muhammad Nur Said saat hendak dikonfirmasi sedang berada di Jakarata.
Sementara Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Perumahan Nelayan pada Dinas Kelautan dan Perikanan Tojo Una-Una, Slamet Lasawedi saat dikonfirmasi melalui telepon selularnya, Selasa (02/03/10) mengaku tidak pernah meminta warga untuk membayar untuk menempati perumahan tersebut.
Dia menjelaskan, dalam pembangunan perumahan nelayan tersebut, pemerintah daerah tidak menyiapkan lahan pembangunan sehingga masyarakat diminta untuk menyiapkan lahannya. Pola itu hampir semua daerah di seluruh Indonesia melakukannya kecuali daerah yang mampu saja yang menyiapkan lahannya.
“Jadi pembangunan perumahan nelayan itu masyarakat yang menyiapkan lahannya. Kita tinggal membangunnya. Kalau soal pungutan itu kami tidak pernah memintanya,” tegasnya membantah isu yang berkembang.
Dia menambahkan, isu yang selama ini berkembang ditengah masyarakat soal adanya pembebasan lahan oleh pemerintah daerah adalah pembebasan lahan untuk pembangunan Tempat Pelelangan Ikan (TPI), bukan pembebasan lahan untuk pembangunan perumahan nelayan.
Dia menyebutkan, berdasarkan data yang ada sebanyak 150 KK nelayan yang ada di desa tersebut seharusnya mendapatkan perumahan tersebut. Namun bantuan yang diberikan pemerintah pusat hanya sebanyak 40 unit perumahan nelayan, sehingga sisanya tidak dapat terakomodir.
“Kalau memang ada bantuan lagi, kita berupaya agar sisa KK yang belum terakomodir tersebut bisa mendapatkannya,” tandasnya. (RAHMAN)

Rabu, 30 September 2009

TIGA LEBARAN DI KABUPATEN TOJO UNA-UNA

Di Bulan Syawal 1430 Hijriah
Tiga Lebaran Dirayakan di Tojo Una-Una

MERAYAKAN lebaran di bulan Syawal satu kali merupakan hal yang biasa bagi kaum muslimin di negeri ini. Namun merayakan lebaran tiga kali di bulan Syawal mungkin hal sangat luar biasa dan jarang terjadi di tempat manapun. Apalagi perayaan itu melibatkan ribuan orang pengunjung, untuk menikmati sajian berbagai panganan yang disediakan warga setempat secara gratis.

Laporan : Rahman Yudhiansyah/Subandy Arya – Ampana

Bagi warga Kabupaten Tojo Una-Una bulan Syawal merupakan bulan berkah setelah melaksankan puasa Ramadhan selama sebulan penuh. Betapa tidak, di bulan ini warga Tojo Una-una di tahun ini bisa merayakan lebaran sebanyak tiga kali.
Lebaran pertama yang dirayakan yakni lebaran Idul Fitri yakni lebaran setelah menunaikan ibadah puasa selama sebulan dan dilaksanakan tepat tanggal 1 Syawal. Kedua, yakni Lebaran Molupi, yakni lebaran yang merupakan tradisi nenek moyang dan terus dilaksanakan secara turun temurun oleh warga asli Kabupaten Tojo Una-Una, yang dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen yang baik. Sedangkan lebaran ketiga yang dirayakan yakni Lebaran Ketupat, yang dilaksanakan juga seminggu setelah melaksanakan puasa sunat syawal.
Lebaran Idul Fitri seperti kita ketahui dirayakan usai shalat Ied dan kebiasaan yang dilaksanakan yakni saling mengunjungi satu sama lainnya dari rumah ke rumah atau dilakukan secara door to door. Kegiatan ini merupakan bentuk silaturrahmi, saling maaf-memaafkan dan mempererat tali persaudaraan antar sesama muslim.
Hal sudah umum dilakukan kaum muslimin di daerah ini dan daerah lainnya.
Di lebaran Idul Fitri ini panganan yang disajikan juga secara umum baik kue basah, kue kering dan panganan seperti burasa (beras yang dibungkus pakai daun pisang dan direbus), ketupat dengan lauk pauk beraneka ragam seperti opor ayam, kari ayam, kari daging sapi dan ikan baik digoreng maupun dibakar serta sayur sup.
Sedangkan lebaran molupi dilaksanakan warga Kabupaten Tojo Una-Una , pada 6 Syawal 1430 Hijriah, dengan cara menggelar tenda di depan rumah warga, sepanjang satu kilometer. Kali ini lebaran molupi dipusatkan di Kelurahan Ampana Kecamatan Ampana Kota.
Kegiatan molupi tersebut merupakan tradisi turun temuran warga Tojo Una-Una yang ada sejak nenek moyang mereka.
Molupi dalam bahasa Bare’e yang artinya melipat daun. Molupi adalah bahasa dari suku Bare’e yang merupakan suku di Kabupaten Tojo Una-Una.
Yang menarik dari lebaran molupi ini adalah setiap warga wajib menyajikan makanan dari beras yang dibungkus daun molupi yang dimasak dalam bambu berukuran satu meter, dengan cara dibakar. Nasi molupi rasanya gurih dan harum karena aroma daun molupi yang khas dan alami.
Menurut salah satu tokoh adat Tojo Una-Una Mahyudin Malili perayaan atau lebaran molupi adalah lebaran turun-temurun yang setiap tahun digelar suku Bare’e yang merupakan salah satu suku asli di Kabupaten Tojo Una-Una. Namun, didalam kota sendiri saat ini perayaan tersebut mulai luntur seiring perkembangan zaman. “Alhamdulillah, Bupati Tojo Una-Una berupaya membangkitkan semangat lebaran molupi sehingga ini yang pertama kali digelar di pusat kota setelah sekian lama tidak pernah di gelar,” kata Mahyudin.
Bupati Tojo Una-Una Dasmik Ladjalani berharap dengan membangkitkan kembali tradisi para leluhur akan menumbuhkan nilai-nilai persaudaraan sesama masyarakat local dan para pendatang.
“Kita berupaya membangkitkan kembali nilai-nilai luhur para lelehur kita yang ada di Kabupaten Tojo Una-Una, terutama nilai-nilai kebersamaan dan persaudaraan melalui lebaran molupii dimana warga disini saling berbagi dan bersilaturahmi dengan menyediakan makanan di halaman rumah masing-masing untuk setiap tamu baik para pendatang maupun masyarakat lokal,” kata Damsik,
Damsik berharap, ritual lebaran molupi menjadi agenda tahunan di Tojo Una-Una dan akan digelar secara bergiliran di setiap kelurahan disaat masuk masa panen.
Dinamakan lebaran Molupi karena sebagai bentuk syukur hasil panen padi selama setahun.
Selain menu wajib berupa nasi molupi, disajikan juga beragam lauk pauk dari sayur-sayuran dan umbi-umbian, ada juga warga yang menyajikan lauk dari ayam kampung dan ikan laut.
Seluruh makanan disajikan di depan setiap rumah warga dengan membuat tenda-tenda didepan rumah, makanan disajikan diatas meja, lengkap dengan minuman dari campuran buah-buahan.
Untuk menyambut para tamu yang datang menikmati hidangan gratis ini para pemilik rumah berdiri di pintu tenda menyambut setiap tamu yang masuk. Bahkan, para pemilik rumah memaksa setiap orang yang lewat harus mampir untuk mencicipi makanannya.
Tradisi lebaran molupi di Tojo Una-Una selama ini masih digelar di kampung-kampung terpencil di kabupaten tersebut. Baru tahun ini bisa digelar di pusat ibu kota kabupaten Tojo Una-Una di kota Ampana.
Seperti ritual-ritual perayaan lebaran pada umumnya yang di buka dengan do’a-do’a, lebaran molupi juga di buka dengan do’a dan tarian asli suku Bare’e sebagai symbol rasa syukur terhadap Tuhan, tarian dengan cara bergandeng tangan dibawakan oleh dua puluh orang dari perempuan dan laki-laki, tarian ini merupakan warisan orang Bare’e terdahulu ketika masih menganaut animimisme. Dari tarian itu dibawakan doa-doa dan syair dari bahasa bare’e sebagai bentuk rasa syukur atas tibanya masa panen.
Setelah tarian usai, seluruh masyarakat yang berkumpul di tenda dan jalan-jalan utama, membacakan doa secara muslim untuk bersama-sama memanjatkan rasa syukur dan dijauhkan dari malapetaka. Lalu setelah itu, semua warga saling bersalaman dan boleh saling bersilaturahmi menikmati hidangan yang disajikan di depan rumah setiap warga.
Sementara lebaran ketupat, merupakan lebaran yang dilaksanakan warga Tojo Una-Una usai melaksanakan puasa sunat Syawal.
Di Ampana Kota, lebaran ketupat setiap tahunnya dilaksanakan warga asal Gorontalo yang bermukim di lingkungan Kayu Kelor Kelurahan Dondo Kecamatan Ampana Kota.
Pelaksanaan lebaran ketupat kali ini terbilang meriah karena warga juga menggelar tenda-tenda di depan rumah. Di dalam tenda tersebut, warga secara berkelompok menyediakan panganan yang terdiri dari Ketupat, nasi dan burasa, yang dilengakapi dengan sayuran khas yang terbuat dari santan kelapa yang diisi dengan ayam. Selain itu lauk pauk lainnya seperti ikan bakar,ikan goreng dan jenis lauk lainnya juga disajikan warga untuk dinikmati setiap pengunjung.
Lebaran Ketupat dilaksanakan warga, mulai bada’ shalat magrib yang diawali dengan pembacaan do’a oleh tetua setempat yang dipusatkan disalah satu masjid di wilayah itu hingga pukul 24.00 Wita atau hingga hidangan yang disediakan habis dimakan.
Warga mulai menyiapkan segala keperluan lebaran ketupat sehari sebelum perayaan dan panganan yang akan dinikmati pengunjung mulai disajikan di atas meja yang berada didalam tenda, sejak sore hingga menjelang magrib.
Ribuan pengunjung yang datang merayakan lebaran ketupat berasal dari berbagai daerah baik yang ada di kabupaten Tojo Una-Una maupun dari luar daerah seperti Palu, Poso, Luwuk maupun Gorontalo, mulai menikmati panganan yang tersedia di dalam tenda setelah pembacaan do’a dilakukan. Seperti di komando, pengunjung yang datang di lingkungan Kayu Kelor Kelurahan Dondo, mulai menyerbu setiap tenda yang ada dan menikmati secara bebas sajian panganan yang disediakan warga.
Usai menikmati makanan yang disajikan warga pengunjung pun beranjak meninggalkan tenda dan berjabat tangan sebagai bentuk rasa terima kasih kepada pemilik tenda yang telah menyediakan makanan. ***

GORENG IKAN MASSAL















Ramaikan Lebaran Ketupat
Warga Tojo Una-Una Gelar Goreng Ikan Sepanjang 4 KM

AMPANA - Seribuan warga Kabupaten Tojo Una-Una yang berada di empat kelurahan di Kecamatan Ampana Kota, Sabtu (26/9) malam, menggelar kegiatan goreng ikan sepanjang 4 kilometer (KM) di pantai Ampana.
Kegiatan goreng ikan tersebut dimulai dari Kelurahan Bailo, Ampana, Uentanaga Bawah dan Kelurahan Dondo yang terletak di pesisir pantai Ampana
Kegiatan yang difasilitasi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tojo Una-Una tersebut dilaksanakan warga mulai sore hari hingga menjelang magrib dan disajikan pada saat lebaran ketupat yang dilaksanakan di empat kelurahan tersebut.
Setiap kelurahan menyiapkan warganya sebanyak 250 orang kaum perempuan, untuk melakukan goreng ikan tersebut di bawah tenda yang dibuat kaum laki-laki pada sehari sebelumnya..
Bupati Tojo Una-Una, Drs Damsik Ladjalani mengatakan, kegiatan ini sebagai bentuk kegiatan massal yang akan dijadikan kegiatan tahunan di daerah ini, pada perayaan lebaran ketupat yang dilaksanakan seminggu usai lebaran Idul Fitri.
“Kita akan memprogramkan setiap tahun kegiatan ini dan kita mulai di empat kelurahan yang ada di Kecamatan Ampana Kota,” katanya.
Selain itu kata Bupati Damsik, kegiatan goreng ikan massal ini juga akan dijadikan iven pariwisata di daerah ini untuk menarik wisatawan baik lokal maupun manca negara.
Dalam kegiatan ini sebut Bupati Damsik, pemkab menyiapkan bahan-bahan yang digunakan dalam kegaiatan goreng ikan massla tersebut berupa beras sebanyak 2 ton, ikan laut sebanyak dua ton dan minyak goreng sebanyak satu ton liter dan minyak tanah dengan total dana sebesar Rp100 juta.
“Semua bahan-bahan itu dibagikan kepada warga untuk digunakan dalam kegiatan goreng ikan ini,” ujarnya.
Bupati Damsik menambahkan, kedepannya kegiatan ini bukan hanya dilaksanakan di empat kelurahan tetapi akan dilaksanakan di seluruh kelurahan dan desa yang berada di sepanjang pantai Ampana dengan panjang 10 kilometer.
Bupati Damsik berharap, kegiatan goreng ikan massal ini selain dijadikan sebagai ajang silaturahmi antar warga di lebaran ketupat, huburan bagi warga juga untuk mendorong warga Kabupaten Tojo Una-Una, agar membiasakan diri untuk mengkonsumsi ikan laut setiap saat.
“Di dalam ikan terdapat protein yang cukup banyak untuk perkembangan otak, sehingga warga harus setiap saat membiaskan untuk mengkonsumsi ikan laut,” imbuhnya.
Ismiaty salah seorang ibu warga Kelurahan Dondo, yang ikut menggoreng ikan mengaku senang bisa terlibat dalam kegiatan ini. Selain memberikan motivasi untuk bisa merayakan lebaran ketupat bersama warga lainnnya juga mendukung program yang dilaksanakan pemerintah.
“Kami senang, karena perayaan lebaran ketupat kali ini ada kegiatan goreng ikan sepanjang 4 kilometer dan sangat memeriahkan pelaksanaan lebaran ketupat tahun ini. Tahun sebelumnya lebaran ketupat tidak diisi kegiatan semacam ini,” jelasnya.
Dia berharap, kegaiatn semacam ini tetap dipertahankan agar Kabupaten Tojo Una-Una setiap tahunnya khususnya pada perayaan lebaran ketupat seperti ini selalu ramai dikunjungi orang, baik dari berbagai tempat di daerah ini maupun dari daerah lainnya di luar Tojo Una-Una.(RAHMAN)

Jumat, 21 Agustus 2009

Karena Niat Begitu Berarti …

Alkisah, tiga orang “besar” yang akhirnya diseret ke neraka karena salah niat. Padahal mereka adalah tokoh – tokoh terkemuka yang sarat dengan prestasi gemilang di tengah kaumnya. Tetapi ada buruk yang tertanam di lubuk hati mereka yang paling dalam.
Mereka dicampakkan ke dalam neraka akibat terbongkarnya niat buruk tersebut di mahkamah keadilan Allah 'Azza Wa Jalla. Siapakah mereka? Sekali lagi, mereka adalah para pembaharu, pembangun dan pejuang bagi kaumnya. Mereka adalah seorang 'alim (berilmu), seorang dermawan (banyak berinfaq) dan yang lainnya adalah seorang mujahid (pejuang di medan perang).
Untuk yang pertama, Allah mendatangkan dan menanyainya : “Apa yang dahulu engkau perbuat di dunia?. Dia menjawab : “Aku menuntut ilmu di jalanMu, lalu kusebarkan ilmu itu karena mencari keridhaanMu”. Maka dikatakan kepadanya : “Engkau dusta! Sebenarnya engkau mencari ilmu supaya manusia menyebutmu sebagai seorang 'alim”. Kemudian diperintahkanlah malaikat penjaga neraka untuk menyeretnya lalu melemparkannya ke dalam neraka.
Untuk yang kedua, Allah mendatangkannya dan menanyainya : Apa yang dahulu engkau perbuat di dunia? Dia menjawab : “Aku mencari harta yang halal, kemudian aku infaqkan harta itu di jalanMu”. Maka dikatakan kepadanya : “Engkau dusta! Engkau infaqkan hartamu supaya manusia menyebutmu sebagai seorang dermawan”. Kemudian diperintahkanlah malaikat penjaga neraka untuk menyeretnya lalu melemparkannya ke dalam neraka.
Dan yang ketiga, dengan nasib yang sama, Allah mendatangkannya dan menanyainya : Apa yang dahulu engkau perbuat di dunia? Dia menjawab : “Aku berperang di jalan Allah, hingga aku mati terbunuh”. Maka dikatakan kepadanya : “Engkau dusta! Engkau berperang supaya manusia menyebutmu sebagai seorang pemberani”. Kemudian diperintahkanlah malaikat penjaga neraka untuk menyeretnya lalu melemparkannya ke dalam neraka.
Demikianlah, kisah di atas yang disebutkan oleh Nabi kita Muhammad Bin Abdullah shallahu 'alaihi wasallam dalam sebuah haditsnya kepada kita sebagai sebuah pelajaran sekaligus peringatan bagaimana membangun amal dari sebuah pondasi yang kokoh (baca : IKHLAS) agar memiliki nilai, makna dan arti, kini dan tentunya kelak di akhirat. Allah Ta'ala berfirman, artinya : "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; dalam (menjalankan) agama dengan lurus." (QS. Al-Bayyinah: 5).
Urgensi Niat
Dari Amirul mukminin, Abu Hafsh, Umar bin Khaththab ra. berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallahu 'alaihi wasallam bersabda : ”Segala perbuatan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan (pahala) dari apa yang diniatkannya. Barangsiapa berhijrah untuk mencari ridha Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa berhijrah untuk mencari dunia atau untuk seorang perempuan yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya hanya untuk itu (tidak mendapat pahala di sisi Allah)”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Para ulama memasukkan hadits niat ini di awal pembahasan kitab – kitab mereka. Hal ini dilakukan tentu bukan tanpa maksud dan tujuan. Bahkan hadits ini masuk dalam 70 bab masalah fiqh. Imam Syafi'i rahimahullahu mengatakan bahwa hadits ini merupakan sepertiga dari ilmu. Dan Imam Abu Dawud rahimahullahu bahkan mengatakan bahwa ia adalah separuh dari agama. Abdullah Bin Mubarak berkata : “Berapa banyak amal yang besar menjadi kecil karena niatnya, dan berapa banyak amalan yang remeh menjadi besar karena niatnya”.
Jika demikian halnya, keberadaan niat begitu berarti bagi sebuah amalan. Maka, niat menjadi hal pokok yang multifungsi. Di antara fungsi – fungsi tersebut adalah :
a. Menyempurnakan dan Mengesahkan.
Tanpa niat yang jelas, sebuah amal tidaklah sempurna, tidak bernilai di sisi Allah. Menurut jumhur ulama, “innamal a'malu binniat” maksudnya adalah “innamaa sihhatul a'maal” : syarat sahnya sebuah amalan. Dan sebagian ulama menegaskan “innamal a'malu binniat” maksudnya sebagai “innamaa kamalul a'maal” : sesungguhnya kesempurnaan amal dengan niat. Jadi, niat menjadi rukun sebuah ibadah, tidak ada ibadah tanpa niat.
b. Mengubah dan Menjadikan.
Niat yang buruk bisa mengubah suatu amal yang baik menjadi buruk. Misalnya, shadaqah adalah sebuah amal yang baik, tapi bila dilakukan untuk pamrih tertentu seperti jabatan, sanjungan, kedudukan, popularitas, maka gugurlah nilainya. Tetapi kaidah ini tidaklah berlaku sebaliknya. Sebuah amal yang buruk tidak bisa berubah menjadi amal yang baik hanya karena niat baik pelakunya. Seorang durhaka, tak bisa menjadikan kedurhakaannya sebagai amal shalih, karena ia meniatkannya untuk sebuah kebaikan. Korupsi, mencuri, merampok, riba, dan maksiat lainnya tidaklah menjadi benar dengan niat dan tujuan ibadah. “Bismillah, nawaitu korupsi lillahi ta'ala..”, ini jelas adalah sebuah kedunguan yang nyata.
Hal ini karena kaidah ushul mengatakan : “al ghayah laa tubarriru al washilah” ; tujuan yang baik tidak menghalalkan segala cara. Jadi, niat dan tujuan yang baik haruslah dilakukan dengan cara yang baik pula. Bukankah Rasul kita yang mulia shallalhu 'alaihi wasaalam pernah bersabda : “Sesungguhnya allah mewajibkan kebaikan atas segala sesuatu” (HR. Muslim) ?.
Begitu pula, niat yang buruk bisa menjadikan suatu yang halal menjadi haram, yang mubah pun menjadi haram. Ketika seorang mengkonsumsi makanan yang halal dan proses memakannya pun merupakan perkara yang mubah, dapat berubah menjadi haram jika ia maksudkan sebagai “nutrisi” menguatkan tulang dan sendinya untuk bermaksiat, yang jika tanpa makan dan minum ia tak mampu menjalankan “aksinya”.
c. Menguatkan.
Dengan niat, amal menjadi kuat, komitmen menjadi kokoh, motivasi menjadi dahsyat, badan yang lemas menjadi kuat. Itulah niat yang kuat, berubah menjadi sebuah 'azam yang bulat, sebagaimana firman Allah Ta'ala, artinya : “Apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah” (QS. Ali Imran : 159).
Seorang dilanda lapar dan dahaga yang amat saat berpuasa. Jika bukan karena niat puasa, mengharapkan pahala dan ganjaran dari Allah Maha Pemberi Perhitungan, jiwanya akan gelisah mencari jalan untuk segera memenuhi “keroncongan” perutnya. Tapi karena ia telah memasang niat bulat berpuasa saat sahur bahkan ketika malamnya, maka ia kuat menjalaninya. Bukan hanya itu, berbekal niat yang bulat, iapun mampu untuk kuat saat menjalankan ketataan, sabar dalam menjauhi maksiat dan hal – hal yang dapat merusak puasanya padahal sebagiannya halal baginya, tegar menghadapi godaan, dan seterusnya.
Maka, mari kita perbaharui niat dalam setiap amalan. Sampai pada setiap derap langkah agar amalan dapat langgeng dan tuntas karena kuatnya jiwa menjalaninya.
d. Membedakan.
Niat itu pula yang dapat membedakan antara ibadah dan adat, antara ibadah dan aktivitas yang nilainya tak lebih dari sekesar rutinitas belaka. Dengan niat, dua jenis amal yang nampaknya sama menjadi beda, kualitasnya apalagi nilainya di sisi Allah Subhaanahu Wata'ala. Adat, kebiasaan dan rutinitas menjadi sesuatu yang bebarti ketika hal itu diniatkan untuk ibadah. Seseorang yang memasuki masjid dengan mendahulukan kaki kanan, sekali waktu dengan kaki kirinya, karena kebiasaan dan rutinitias maka tidak bernilai apa- apa. Tapi ketika ia masuk masjid dengan mendahulukan kaki kanannya, dengan kesadaran dan niat untuk menigkuti sunnah Rasulullah shallalhu 'alaihi wasallam maka saat itu pula aktivitasnya berubah menjadi sebuah ibadah yang tinggi nilainya. Seorang shalih , Zubaid Al Yamy berkata : “Sunguh, aku benar – benar suka jika ada niat dalam segala sesuatu, termasuk pula tatkala makan dan minum”. Kata beliau juga : “Berniatlah dalam segala kebaikan yang engkau kehendaki, termasuk tatkala engkau ingin menyapu”.
Itu di dunia. Sampai di akhirat nanti, ketika setiap hamba dibangkitkan oleh Allah Sang Kuasa, fungsi ini amatlah berperan. Betapa tidak, setiap hamba akan dibangkitkan (baca : dimintai pertanggungan jawab) dalam keadaan yang berbeda – beda, sesuai dengan niat – niat mereka. Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah shallalahu 'alaihi wasallam menceritakan kepada Aisyah radhiallahu 'anha, istinya, beliau bersabda : “ Suatu pasukan tentara akan menyerang ka’bah. Ketika tiba di suatu tanah lapang, mereka semua dibenamkan (ke tanah).” Aisyah bertanya, “Ya Rasulullah, mengapa mereka dibinasakan semua. Padahal, diantara mereka terdapat kaum awam (yang tidak mengerti persoalan) dan orang-orang yang bukan golongan mereka (mereka ikut karena dipaksa)?” Rasulullah bersabda,”Mereka semua dibinasakan. Kemudian mereka dibangkitkan (pada hari kiamat) sesuai niat mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim).
e. Membesarkan.
Niat membuat sesuatu yang sederhana menjadi besar. Ada sebuah fenomena yang menarik. Di Masjid Wihdatul Ummah, Makassar, diadakan ta'lim secara rutin setiap pekan. Majelis ini selalu dipenuhi oleh jama'ah, dari kalangan remaja, dewasa hingga manula, yang begitu antusias dan menyesaki ruangan masjid yang sebenarnya cukup luas. Ada kebiasaan yang mungkin tidak dihiraukan oleh kebanyakan jama'ah. Padahal jika dicermati, kebiasaan seperti ini adalah suatu yang tak biasa, darinya dapat terungkap sebuah kebesaran jiwa dan tujuan. Apa itu? Parkir gratis. Ya, penyediaan jasa parkir motor setiap jama'ah, tanpa dipungut biaya sebagai balas jasa. Sebuah hal yang jarang didapati kecuali pada tempat – tempat umum, biasa, dan menjajikan “uang”. Setiap motor disusun dengan rapi, dan yang pasti aman, karena panitia masjid menyiapkan “pasukan khusus” untuk menjaganya. Setiap jama'ah tidak lagi terusik dengan kecemasan akan keamanan motornya, sehingga merasa nyaman dan tenang menyimak mutiara ilmu dari sang ustadz. Fenomena ini jelas hal yang sederhana dan tidak sebesar dan semegah jihad. Tetapi, Insya Allah dengan niat untuk ibadah dari para “pelakunya”, maka iapun menjadi sebuah yang besar. Setidak-tidaknya, motor jama'ah yang tersusun rapi, menggambarkan ukhuwah islamiyah, kekokohan bangunan kaum muslimin sebagai “shaffan ka'annahum bunyanun marshush..”. Begitu pula, motor jama'ah yang tersusun rapi seperti itu, membawa dampak psikologis bagi jam'ah sehingga mereka rajin menghadiri majelis ilmu, khususnya di tempat itu. Dan yang lebih besar lagi, kenampakan seperti ini bisa “menggetarkan” musuh – musuh Allah yang dengannya agama Allah bisa menang di atas agama lainnya, sebagaimana firmanNya, artinya : “ … menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya... ” (QS. Al Anfal : 60).
Jadi, niat yang besar, sungguh menjadikan pemiliknya “besar” di dahapan Allah. Sehingga kita patut untuk mengatakan : “Laa tahkiranna minal ma'rufi syai'an … “ karena “ kullu ma'rufin shadaqah...” : Jangan meremehkan sebuah kebaikan (sekecil apapun itu) karena setiap kebaikan bernilai shadaqah.
f. Melipatgandakan.
Sebenarnya fungsi ini sama dengan fungsi terdahulu yakni membesarkan. Tetapi, fungsi ini perlu untuk di-ta'qid (dikuatkan) kembali. Bagaimana niat bisa melipatgandakan (pahala) amalan? Ya, jelas bisa. Dalam dakwah, seorang melakukan kerja – kerja dakwah yang ia niatkan untuk kemashlahatan umat secara umum, tentu ia merupakan hal yang bisa melipatgandakan pahala di sisi Allah, meskipun yang empunya niat telah meninggal dunia. Bukakankah Rasul kita yang mulia shallallahu 'alaihi wasallam telah mengajarkan kita bagaimana cara “membuka rekening royalti” kebaikan yang abadi? Yakni, mengajarkan ilmu yang bermanfaat kepada manusia, sehingga ilmu tersebut diamalkan oleh manusia. Kemudian pahala atas amal manusia juga “ditransfer” kepada mereka yang telah mengajarkannya.
Begitulah, niat adalah hal yang pokok dengan segenap fungsinya, begitu berarti bagi setiap kita. Niat akan menentukan seseorang beruntung atau celaka, diterima atau ditolak, kecil atau besar. Dan ingatlah bahwa niat yang baik (baca : IKHLAS) tidaklah cukup, melainkan ia mesti disandingkan dengan amalan yang baik pula (baca : ITIBA'URRASUL (mengikuti sunnah nabi)). Hal ini tidak lain agar sebuah amalan tidak “menguap”, karena ia tertolak di sisi Allah Rabbul 'Alamin. Wallahu A’lam. (abumujahid)

Sumber : wahdah.or.id

Jumat, 06 Maret 2009

PEMILU DAMAI dan BERKUALITAS

Ciptakan Pemilu Damai dan Berkualitas
PBHR – Election MDP Gelar Pendidikan Pemilih
PALU - Pemilihan Umum yang baik dan bersih dan berkualitas, mensyaratkan adanya pemilih yang mempunyai pengetahuan, kesadaran, dan terbebaskan dari intimidasi serta potensi suap serta menjadikan konstituen sebagai pemilih yangg cerdas dan kritis.

Dalam rangka itulah, Perhimpunan Bantuan Hukum Rakyat Sulawesi Tengah (PBHR Sulteng) bekerja sama dengan Election MDP yang merupakan gabungan beberapa lembaga seperti UNDP, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Departemen Dalam Negeri (Depdagri), Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) atas dukung oleh Kedutaan Besar Inggris, Australia, Canada Spanyol dan Belanda, menyelanggarakan kegiatan pendidikan pemilih (Voter Education) di empat wilayah kecamatan yang ada di Kota Palu dan sebagian Kabupaten Donggala.
Project Manager Program Mendorong Pemilu Damai dan Berkualitas di Kota Palu dan Donggala, Syahrul, SH kepada Media Alkhairaat, Kamis (5/3) di kantor PBHR Sulteng mengatakan, kegiatan Voter Education ini akan di selenggarakan selama 21 hari dan sebagai upaya untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang tata cara memilih yang benar dalam pelaksanaan Pemilu Legislatif yang akan diselenggarakan 9 April mendatang.
“Prinsipnya kegiatan ini untuk memberikan pengetahuan dan membangun kesadaran masyarakat agar menjadi pemilih yang kritis dan cerdas dalam Pemilu mendatang,”ujarnya.
Dia menyebutkan, selain itu kegiatan ini sebagai upaya membantu pemerintah khususnya KPU, dalam mensosialisasikan tata cara pelaksanaan Pemilu kepada masyarakat, di tengah keterbatasan waktu dan semakin dekatnya waktu pelaksanaan pemilihan.
“Dengan adanya kegiatan pendidikan pemilih ini, masyarakat dapat mengetahui benar tata cara pelaksanaan pemilih yang menggunakan metode contreng,” katanya.
Dia menambahkan, sebelum kegiatan Voter Education ini di gelar di empat kecamatan yang ada di Kota Palu dan sebagian Kabupaten Donggala, di awali dengan pembekalan fasilitator yang ditunjuk dan akan bertugas memberikan pendidikan pemilih kepada masyarakat selama dua hari.
“Pembekalan ini dilaksanakan agar fasilitator yang telah ditunjuk, dapat menguasai bahan-bahan kegiatan Voter Education,” sebutnya..
Sedangkan sasaran kegiatan Voter Education ini, sebut Syahrul, yakni para pemilih pemula, kaum perempuan dan masyarakat termarjinalkan yang ada di dua daerah ini, sehingga kelompok- kelompok masyarakat pemilih ini dapat menggunkan hak suaranya secara baik dan benar.
“Tiga kelompok pemilih ini kami nilai sangat rawan dengan tingkat kesalahan saat melaksanakan metode pemilihan yang diterapkan pada hari H Pemilu,” katanya.
Selain kegiatan Voter Education kata Syahrul, menjelang masa kampanye, pihaknya akan menyelenggarakan karnaval yang diikuti oleh masyarakat pemilih. Kegiatan karnaval ini bertujuan untuk mengkampanyekan pelaksanaan Pemilu yang damai dan berkualitas di dua wilayah yang akan dijadikan titik kegiatan Voter Education.
“Secara keseluruhan kegiatan yang diselenggarakan sebagai upaya untuk menciptakan kesadaran masyarakat akan pentingnya Pemilu serta mendorong, mengajak masyarakat untuk menjadikan Pemilu damai dan berkualitas di daerah ini,” tandasnya. (rahman)

Momen Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2018 di Poso

MOMEN HARI PENDIDIKAN NASIONAL MOMEN HARI PENDIDIKAN NASIONAL 2 MEI 2018 DI POSO "Anak-anak Sekolah Dasar (SD) yang ada di Kot...