Selasa, 25 November 2008

PENGRAJIN SOLDER PATRI


Pengrajin Solder Patri di Sigi

Cara Tradisional yang Masih Diminati

Di kecamatan Sigi Biromaru Kabupaten Donggala, masih ada seorang tukang solder patri, yang siap memperbaiki maupun membuat peralatan baik rumah tangga maupun peralatan pertanian.

Walau masih menggunakan cara tradisional yakni dengan cara membakar hingga panas sepotong besi dengan api dari kompor gas minyak tanah untuk digunakan menyolder peralatan-peralatan yang dibuat dan diperbaiki tersebut, ternyata cara itu masih cukup diminati oleh banyak kalangan untuk memesan peralatan yang dibuat pengrajin itu maupun untuk memperbaiki peralatan yang rusak.

Diusianya yang sudah senja, Sompe Labuntina (66) warga Dusun II Desa Sidera Kecamatan Sigi Biromaru Kabupaten Donggala, masih tetap menekuni pekerjaannya sebagai tukang solder patri hingga kini.

Sompe yang ditemui Media Alkhairaat ditempat kerjanya yang terletak di halaman depan rumahnya, mengaku telah menekuni pekerjaan sebagai tukang solder patri sejak tahun 1978. Sebelumnya pada usia 24 tahun atau dari tahun 1966 hingga tahun 1978, memulai pekerjaannya membuat peralatan pertanian berupa Pajeko yakni peralatan pertanian yang biasa digunakan petani di daerahnya. Bukan hanya itu yang dibuatnya, peralatan kerja pertanian lainnya pun pernah dibuatnya seperti pacul, arit mapun parang

Seiring dengan berkurangnya tenaganya dalam melakukan pekerjaan tersebut karena termakan usia, Sompe Labuntina pun beralih pekerjaan menjadi seorang tukang solder patri. Menurutnya, pekerjaan ini diawalinya dengan cara melihat-lihat saja para tukang solder patri bekerja. Dari melihat itu, kata Sompe kemudian dirinya mulai melakukan coba-coba untuk melakukannya.

“Awalnya hanya coba-coba lama kelamaan saya menyukai pekerjaan ini,” katanya sambil memperlihatkan cara kerja solder patrinya.

Dia menyebutkan, dari pekerjaan sebagai tukang solder patri ini ia dapat menghidupi istri dan empat anaknya pada saat itu.

“Pekerjaan inilah yang memberikan saya penghidupan hingga kini,” katanya.

Meski telah ditinggal istri tercintanya beberapa tahun lalu, Sompe tidak putus asa melakukan pekerjaannya. Saat ini, Sompe yang sudah memiliki tiga orang cucu ini terus melakukan pekerjaannya.

Meski hanya sebagai tukang solder patri, Sompe setiap hari pasar di daerahnya yakni setiap Hari Minggu dan Kamis, dirinya selalu mendatangi pasar tersebut, selain untuk melayani pelanggannya untuk memperbaiki peralatan rumah tangga juga untuk menjajakan buatannya berupa lampu minyak yang menggunakan wadah kaleng susu bekas.

Lampu minyak tanah yang terbuat dari kaleng susu bekas tersebut, dijualnya dengan harga Rp3.500 per buahnya.

Dalam satu minggu, sebut Sompe dirinya bisa membuat lampu minyak tanah dari kaleng susu bekas itu hingga 20 buah, karena di luar hari Minggu dan Kamis, dirinya harus memperbaiki sejumlah peralatan dapur yang rusak milik langganannya seperti panci dan wajan.

“Untuk membuat lampu minyak tanah dari kaleng susu bekas itu, saya kerjakan dilura hari Kamis dan Minggu,” tuturnya.

Dia mengatakan, saat ini orang yang masih bekerja sebagai tukang solder patri di desanya bahkan di wilayah kecamatan Sigi Biromaru mungkin tinggal dirinya sendiri, karena tukang solder patri lainnya sudah meninggal dunia.

“Mungkin tinggal saya saja disini yang masih bekerja sebagai tukang solder patri,” ujarnya meyakinkan.

Walau telah lama menjadi tukang solder patri sebut Sompe, hingga kini dirinya tidak pernah mendapat bantuan modal dari pemerintah dan dari pihak-pihak lain dalam menjalankan usahanya. “Dengan bermodalkan peralatan seadanya saya berusaha untuk menjalankan usaha ini dengan biak, meski tidak ada bantuan modal dari pemerintah,” tuturnya.

Dia menambahkan, walau masih menggunakan cara lama atau tradisional minat masyarakat terhadap solder patri masih cukup banyak, tebukti masih banyak orang yang mau memperbaiki maupun memesan untuk dibuatkan peralatan dapur berupa dandang maupun peralatan lainnya.

“Alhamdulillah masih banyak yang minati solder patri ini. Menurut mereka hasilnya lebih baik dan tahan lama,” ujarnya sambil memperlihatkan beberapa hasil pekerjaannya. (rahman)

Tidak ada komentar: