Kamis, 15 April 2010

PENAMBANG EMAS DI DATARAN BULAN


PENAMBANG EMAS DI DATARAN BULAN (2-Habis)
Sehari Menambang Bisa Dapat Hingga 5 Gram

WILAYAH Dataran Bulan yang berada di Kecamatan Ampana Tete Kabupaten Tojo Una-Una, kurun dua bulan terakhir ini ramai dengan para penambang emas, yang datang dari berbagai penjuru. Kawasan yang disebut warga setempat sebagai ”Surga Kehidupan” itu memiliki potensi sumber daya alam yang cukup besar termasuk potensi emas.

LAPORAN : RAHMAN YUDHIANSYAH

Menjelang malam di Desa Bulan Jaya, Rabu (10/3) Sekira pukul 20.00 Wita, saya dan teman memutuskan untuk menginap di salah satu rumah warga setempat bernama Iwan ((34). Dari cerita pemilik rumah yang ternyata juga seorang penambang emas itu, saya dan teman mendapatkan informasi seputaran aktivitasnya selama dua bulan terakhir ini mencari emas di kawasan sungai Sikoi bawah atau tepatnya di Desa Giri Mulyo atau yang biasa mereka sebut di lokasi Tap sahttp://www.blogger.com/img/blank.giftu.
Menurut Iwan, potensi emas di sungai tersebut bukan hanya terdapat emas kuning tetapi juga emas putih yang harganya jika di jual cukup lumayan nilainya.
Dia mengatakan, di sungai Sukoi bawah ini para penambang yang rata-rata warga Desa Bulan Jaya dan Giri Mulyo, dalam mencari emas menggunakan mesin alcon (baca Alkon), sebagai sarana untuk menyedot pasir yang diperkirakan mengandung emas. Penyedotan pasir dilakukan para penambang di seputaran pinggiran sungai Sukoi, kemudian pasir yang disedot diarahkan ke satu wadah (semacam dulang) yang telah disiapkan sebagai alat untuk memisahkan pasir dengan emas.
”Dari aktivitas menambang ini, kami bisa mendapatkan emas dari 2 gram hingga 5 gram sehari, jika beruntung,” akunya.
Dia mengaku, sebelum adanya pelarangan melakukan aktivitas penambangan di aliran sungai Sukoi dirinya bersama sejumlah warga yang melakukan pencarian emas, mendaptkan hasil penambangan yang cukup lumayan. Namun sejak adanya pelarangan itu mereka sudah tidak berani ke lokasi penambangan karena takut ditangkap oleh aparat kepolisian.
Dia menyebutkan, sejak adanya pelaranagn tersebut, sejumlah alat-alat kerja berupa mesin alkon , terpaksa harus dikeluarkan dari lokasi untuk menghindari penyitaan. Bahkan bukan hanya mesin alkon, peralatan lainya berupa peralatan masak memasak dan bahan bakar berupa bensin juga mereka amankan.
”Peralatan-peralatan itu terpaksa kami tanam di suatu tempat yang jauh dari jangkauan petugas,” sebutnya.
Dia menambahkan, sehari menjelang batas waktu pengosongan lokasi pertambangan, dirinya bersama sejumlah teman masih sempat melakukan aktivitas menambang di sungai Sukoi bawah tersebut dan hasil yang didapatkan terbilang cukup lumayan yakni mencapai 5 gram lebih emas.
”Saya masih bisa dapat emas sebanyak 5 gram lebih, dihari terakhir batas pengosongan lokasi,” ujarnya.
Malam semakin larut, udara dingin mulai merasuk tubuh dan rasa ngantuk pun menghampiri. Kami pun memutuskan untuk mengakhiri perbincangan, karena ke esokan harinya (Kamis, 11/3) saya dan teman berencana menuju salah satu titik lokasi penambangan. Kami pun beristirahat.
Sekira pukul 08.00 Wita, Kamis (11/3), saya dan teman sepakat untuk menuju salah satu lokasi penambangan yang terdekat di Desa Girimulyo atua tepatnya di Sungai Sikoi bawah. Dengan mengendarai motor Honda Win, kami melintas sebuah jalan ke Desa Giri Mulyo. Untuk menuju desa ini kami harus menyeberangi sebuah sungai yang lebarnnya kurang lebih 10 meter, namun kedalamannya tidak seberapa karena kendaraan jenis motor dan mobil masih bisa melewatinya. Untung saja, cuaca pagi itu agak cerah sehingga perjalanan kami ke Desa Giri Mulyo tak menemui hambatan. Sesampainya di ujung desa, teman yang mengendarai motor mengatakan untuk menuju sungai Sukoi ada dua jalur jalan yang harus dilewati salah satunya harus melewati kebun warga dan salah satunya menuju Lipu Pari’a salah satu kawasan dimana masyarakat Adat Tau Taa Wana bermukim dan jaraknya cukup jauh.
”Kita lewat kebun warga saja kalo memang jalan itu lebih dekat,” ujarku kepada teman.
Temanku pun mulai memacu motornya dengan melewati jalan setapak memasuki kebun warga. Saat menuju ke kebun tersebut jalan setapak yang kami lewati terbilang licin. Hal itu disebabkan semalam di desa ini turun hujan.
Di ujung kebun kami pun memarkir sepeda motor di bawah pohon kakao di salah satu kebun warga dan melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki sepanjang 3 KM memasuki kawasan hutan.
Sekira satu jam berada di lokasi itu dan mengambil beberapa gambar melalui kamera digital, kami pun meninggalkan lokasi tersebut dan kembali ke desa Giri Mulyo.
Di pusat desa itu kami singgah di salah satu kios milik warga dengan alasan membeli air mineral dan bermaksud mencari informasi lainnya soal aktivitas penambangan di kawasan tersebut. Gayung bersambut, pemilik kios tersebut yang ternyata salah satu pembeli emas tersebut pun akhirnya mau menceritakan yang kami maksud.
”Memang dua bulan terkhgir ini sebelum di tutup, banyak warga sini (warga dataran bulan,red) dan warga pendatang mencari emas dii sungai Sikoi,” jelas ibu pemilik kios, yang namanya tidak mau dikorankan.
Dia menceritakan, adanya aktivitas penambangan emas ini, dalam dua minggu saja dirinya berhasil membeli emas dari para penambang mencapai 1 kilogram.
Dalam satu gram kata ibu itu, dia membeli dengan harga Rp285 ribu, ataa mengikuti harga yang telah ada di pembeli lainnya.
”Kami harus mengikuti harga yang sudah ada dan berlaku disini kalau tidak kami tidak dapat emas,” ujarnya.
Dia mengaku, modal yang dipakai untuk membeli emas tersebut berasal dari salah satu bos pembeli emas asal Kalimantan yang berada di Toili. Bahkan bukan hanya itu bosnya membekali dirinya dengan 20 unit mesin alkon untuk di jual kepada warga dengan cara dicicil.
”Mesin-mesin alkon itu kami cicilkan kepada masyarakat yang membutuhkan dengan harga Rp6,2 juta per unit. Pembayarannya dilakukan dengan cara memotong hasil penjualan emas kepada kami,” jelasnya.
Dataran Bulan sebagai ”Surga Kehidupan” kurun dua bulan terkahir ini, membuat masyarakat di kawasan tersebut menjadi ”gila” dengan emas dan uang yang cukup berlimpah, karena dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun disisi lain, kawasan ini secara kasat mata terlihat rusak akibat mesin-mesin alkon yang menyedot pasir di sungai. (***)

Tidak ada komentar: